" Alkitab Hari Ini "
Jumat, 20 Agustus 2010
Apabila perjalanan menjadi sulit, orang ulet akan terus berjalan (Knute Rockne)
Kesuksesan yang terjadi di dunia ini, apapun bentuknya, hanya bisa didapat dengan kerja keras. ”99% kerja keras, 1% kecerdasan,” ujar Einstein tentang kesuksesan yang diraihnya. Demikian juga dengan Carl C.Wood yang mengomentari hubungan antara kesuksesan dengan kerja keras, ”Orang yang tahu cara bekerja akan selalu punya pekerjaan”.
Manusia harus bekerja keras setiap saat. Ia harus mampu mengoptimalkan semaksimal mungkin waktu yang dimilikinya, jangan sampai terbuang percuma atau terbuang begitu saja tanpa memberi manfaat apa-apa. ”Dalam kerja, manusia seperti matahari. Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan atau tidak ada awan, matahari tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan tenggelam,” ujar Gede Prama.
Kerja keras dapat mengubah keadaan, kegagalan menjadi keberhasilan, kekalahan menjadi kemenangan, kebodohan menjadi kepandaian, dan kemiskinan menjadi kekayaan. George Bernard Shaw berujar mengenai kerja keras sesuai pengalamannya, ”Ketika muda, saya mendapati bahwa 9 dari 10 hal yang saya lakukan gagal, oleh karena itu saya selalu mengerjakan 10 kali lebih banyak”. Bekerja keraslah, maka keadaan Anda akan berubah. Bahkan, dengan kerja keras Anda dapat mengubah dunia ini menjadi tempat tinggal yang lebih baik.
Namun, harus diperhatikan juga agar kerja keras kita diimbangi dengan kecerdasan. Istilah bekennya: kerja keras dan cerdas. Jangan sampai kita hanya terpaku bahwa dengan kerja keras saja usaha kita akan menuai hasil. ”Ada orang yang yang tidak dapat membedakan antara sibuk dan produktif. Mereka adalah kincir angin berwujud manusia, bekerja keras, tapi sebenarnya sedikit hasilnya,” ujar Caroline Donnely.
Bukankah seorang kuli panggul (tanpa merendahkan pekerjaannya) bekerja lebih keras daripada seorang Presiden Direktur perusahaan ternama? Tapi penghasilan kuli panggul sangatlah jauh berbeda dengan sang Presdir. Apa yang membedakannya? Kecerdasan. Jadi kerja keras pun harus diimbangi dengan kecerdasan. Solusinya? Pendidikan.
Orang yang sukses akan mengambil tindakan sekarang juga untuk bekerja keras. Mereka tahu bahwa hanya dengan kerja keraslah hal-hal yang mereka impikan akan terwujud. Mereka tidak menunggu belas kasihan orang lain atau berharap langit menjatuhkan emas dan perak serta Tuhan akan menurunkan keberuntungan. Hanya satu hal dalam pikiran mereka, bekerja keras atau terlindas dalam persaingan. ”Banyak hal mungkin datang kepada mereka yang menunggu tetapi hanya hal-hal yang disisakan oleh mereka yang bekerja keras,” ujar Abraham Lincoln. Jika kita tidak mulai bekerja keras saat ini juga, jangan salahkan siapapun jika kita hanya mendapatkan sisa rezeki dan tertinggal jauh dari para pesaing kita. Salahkan saja diri sendiri, mengapa tidak mau bekerja keras sedari awal?
”Gagasan tidak turun dari langit yang abstrak, tetapi muncul dari tanah dan pekerjaan,” ujar Balzac.
Sebagai penutup, mari kita renungkan sebuah puisi tradisional Afrika, ”Setiap hari Afrika mengawali pagi. Seekor rusa bangun, tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa yang tercepat, atau ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lambat, atau ia akan mati kelaparan. Tidak masalah apakah kau seekor singa atau seekor rusa; ketika matahari terbit, lebih baik kau mulai berlari”.
Bagaimana Caranya Menangani Konflik & Kritik dengan Bijaksana- 2
Ada sembilan jalan yang dapat Anda tempuh dalam mengatasi konflik dengan bijaksana.
1. ketika timbul konflik antara Anda dengan seseorang, entah ada kritik atau tidak, peliharalah roh yang tenang, yang damai.
2. Jangan langsung membela diri. Bukan berarti tidak akan ada saat-saat dimana Anda harus membela diri.
3. Mintalah Roh Kudus untuk mengunci mulut Anda dan menjaganya (Mazmur 141:3).
4. Mintalah Roh Kudus yang hidup di dalam diri Anda , memberi penglihatan yang tajam, agar Anda memahami apa yang sesungguhnya terjadi.
5. Apapun yang terjadi, konflik apapun yang Anda hadapi, pandanglah itu sebagai berasal dari Allah.
6. Mintalah Roh Kudus menunjukkan kepada Anda … apakah ini karena kesalahan anda? Kalau anda penyebabnya, Roh Kudus akan menunjukkannya pada Anda, memang Andalah yang menyebabkan konflik itu.
7. Seandainya seseorang bersalah kepada Anda atau ia yang menyebabkan konflik, atau ia yang mengritik Anda, maafkanlah atas apapun yang terjadi.
8. Arahkanlah pandangan Anda melampaui konflik atau kritik itu, dan tanyakanlah … Bagaimanakah di lain waktu saya dapat menghindari hal seperti ini? Apakah yang dapat saya lakukan untuk orang ini, untuk membantunya memahami bahwa saya mengasihinya, bahwa saya peduli? Apakah yang dapat saya perbuat, agar orang ini mengerti bahwa ada cara lain yang lebih baik, untuk menangani hal-hal seperti ini?
9. Manfaatkanlah konflik itu dan lakukan dua hal. Yaitu mintalah agar Allah menolong Anda untuk belajar dari konflik itu mengenai: bagaimana orang memberi tanggapan, bagaimana orang berpikir.
Lakukan dua hal. Yaitu mintalah agar Allah menolong Anda untuk belajar dari konflik itu mengenai : bagaimana orang memberi tanggapan, bagaimana orang berpikir. Mengapa manusia bersikap seperti itu. Apa yang membuat manusia memberikan respons seperti itu. Apakah saya sekudus seperti yang saya duga? Apakah saya benar-benar dapat memelihara ketenangan, kedamaian? Apakah saya benar-benar dapat mengasihi musuh saya? Apakah saya benar-benar dapat dengan tulus mendoakan orang ini? Konflik itu juga peluang yang sangat baik untuk mendemonstrasikan kehidupan Kristus melalui cara kita memberikan respons. Kita tidak pernah tahu seberapa jauh orang yang belum diselamatkan itu, ketika melihat respons kita, mungkin menjadi senjata yang paling ampuh bagi Roh Kudus untuk menembus hatinya, dan menolongnya memahami bahwa iman Kristiani kita itu nyata. Bahwa iman Kristiani kita itu sungguh memungkinkan kita menghadapi konflik dan mendengarkan kritik. Meskipun kita berhadap-hadapan dengan kesulitan, kesusahan, ujian, kesakitan, kritik, cemooh, tetapi kita tetap dapat tersenyum, tetap ada damai dan sukacita dalam hati, apapun yang terjadi dan berapa lama pun.
Jumat, 13 Agustus 2010
Bagaimana Caranya Menangani Konflik & Kritik dengan Bijaksana-1
Bagaimana Caranya Menangani Konflik & Kritik dengan Bijaksana-1
Apakah Anda pernah menjadi objek kritikan yang dapat menimbulkan konflik, padahal bukan karena kesalahan Anda? Sdr, Rasul Paulus mengalami hal ini. Rasul Paulus dibawa ke Roma sebagai tawanan, dan ada umat di Roma ketika itu yang sangat menentang Rasul Paulus dengan dua alasan.
Pertama, karena Rs.Paulus menekankan pentingnya mewartakan Injil kepada bangsa yang bukan Yahudi. Mereka menganggap bahwa seharusnya Paulus hanya mewartakan Injil kepada bangsa Yahudi. Kedua, Rs. Paulus lebih menekankan Kasih Karunia Allah daripada hukum Allah. Padahal Rs. Paulus yang mempunyai latar-belakang Ibrani, yang menurut mereka seharusnya Rs. Paulus menekankan hukum Allah, bukan Anugerah Allah.
Bagaimana caranya menangani kritik dan konflik yang timbul bukan karena sesuatu yang sengaja Anda perbuat, atau bahkan mungkin Anda sendiri tidak tahu mengapa hal itu terjadi tetapi Anda tetap harus menghadapinya?
Pertama, Anda harus mencari tahu penyebab konflik itu. Terkadang konflik itu akibat beban emosional kita sendiri. Kita tumbuh dalam situasi dan keadaan sulit.
Jadi, kalau kita dapat mengidentifikasikan penyebab konflik dan alasan seseorang mengritik kita, separuh pertempurannya sudah selesai. Sesungguhnya, setiap kali ada konflik dan kritik, kita perlu bersikap rendah hati, dan mempunyai sikap yang benar.
Kita perlu mencari cara untuk menyelesaikan, bukan meneruskan konflik, dan bukan menutup telinga terhadap lawan kita. Kita harus realistis dalam hal bagaimana konflik dan kritik itu mempengaruhi kita.
Persoalannya adalah, kita tidak mungkin lolos dari konflik dan kritik. Jadi, bagaimanakah seharusnya respons kita? Apakah kita akan memberikan respons menurut cara kudus?
Jadi, apakah akibatnya kalau seseorang tidak mau menangani kritik dan konflik seperti itu? Pertama, mereka membatasi potensi pertumbuhan mereka. Mereka tutup pikiran mereka sebab mereka tidak dapat mempelajari hal-hal yang Allah kehendaki mereka pelajari. Kedua, mereka takkan menemukan siapa mereka sesungguhnya. Ketiga, mereka akan gagal dalam pertumbuhan rohani.
Apakah Anda pernah menjadi objek kritikan yang dapat menimbulkan konflik, padahal bukan karena kesalahan Anda? Sdr, Rasul Paulus mengalami hal ini. Rasul Paulus dibawa ke Roma sebagai tawanan, dan ada umat di Roma ketika itu yang sangat menentang Rasul Paulus dengan dua alasan.
Pertama, karena Rs.Paulus menekankan pentingnya mewartakan Injil kepada bangsa yang bukan Yahudi. Mereka menganggap bahwa seharusnya Paulus hanya mewartakan Injil kepada bangsa Yahudi. Kedua, Rs. Paulus lebih menekankan Kasih Karunia Allah daripada hukum Allah. Padahal Rs. Paulus yang mempunyai latar-belakang Ibrani, yang menurut mereka seharusnya Rs. Paulus menekankan hukum Allah, bukan Anugerah Allah.
Bagaimana caranya menangani kritik dan konflik yang timbul bukan karena sesuatu yang sengaja Anda perbuat, atau bahkan mungkin Anda sendiri tidak tahu mengapa hal itu terjadi tetapi Anda tetap harus menghadapinya?
Pertama, Anda harus mencari tahu penyebab konflik itu. Terkadang konflik itu akibat beban emosional kita sendiri. Kita tumbuh dalam situasi dan keadaan sulit.
Jadi, kalau kita dapat mengidentifikasikan penyebab konflik dan alasan seseorang mengritik kita, separuh pertempurannya sudah selesai. Sesungguhnya, setiap kali ada konflik dan kritik, kita perlu bersikap rendah hati, dan mempunyai sikap yang benar.
Kita perlu mencari cara untuk menyelesaikan, bukan meneruskan konflik, dan bukan menutup telinga terhadap lawan kita. Kita harus realistis dalam hal bagaimana konflik dan kritik itu mempengaruhi kita.
Persoalannya adalah, kita tidak mungkin lolos dari konflik dan kritik. Jadi, bagaimanakah seharusnya respons kita? Apakah kita akan memberikan respons menurut cara kudus?
Jadi, apakah akibatnya kalau seseorang tidak mau menangani kritik dan konflik seperti itu? Pertama, mereka membatasi potensi pertumbuhan mereka. Mereka tutup pikiran mereka sebab mereka tidak dapat mempelajari hal-hal yang Allah kehendaki mereka pelajari. Kedua, mereka takkan menemukan siapa mereka sesungguhnya. Ketiga, mereka akan gagal dalam pertumbuhan rohani.
Langganan:
Postingan (Atom)